Sabtu, 25 Desember 2010

tentang kebidanan

Pengertian Persalinan
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin atau uri) yang
telah cukup bulan atau hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui
jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri) (Manuaba, 1998
Bentuk Persalinan
Bentuk persalinan berdasarkan definisi adalah sebagai berikut: (Manuaba,
1998 : 157)
a. Persalinan spontan, bila persalinan seluruhnya berlangsung dengan kekuatan
ibu sendiri.
b. Persalinan buatan, bila proses persalinan dengan bantuan tenaga dari luar.
c. Persalinan anjuran, bila kekuatan yang diperlukan untuk persalinan
ditimbulkan dari luar dengan jalan rangsangan.
Persalinan merupakan titik kulminasi dari suatu proses reproduksi, karena itu timbulah martenity care yang bertujuan memberikan pelayanan kepada wania hamil dan persalinan sampai masa nifas.Wiknjosastro (1992), menyatakan bahwa persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup, dari dalam uterus melalui vaginak edunia luar.Sedangkan Muchtar (1998), dalam sinopsis obstetri menyatakan persalinan adalah proses pengeluaran produk konsepsi yang viabel melalui jalan lahir bias... [
Neonatus adalah masa kehidupan pertama di luar rahim sampai dengan usia 28 hari, dimana terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan didalam rahim menjadi diluar rahim. Pada masa ini terjadi pematangan organ hampir pada semua system. Neonatus bukanlah miniatur orang dewasa, bahkan bukan pula miniatur anak. Neonatus mengalami masa perubahan dari kehidupan didalam rahim yang serba tergantung pada ibu menjadi kehidupan diluar rahim yang serba mandiri. Masa perubahan yang paling besar terjadi selama jam ke 24-72 pertama. Transisi ini hampir meliputi semua sistem organ tapi yang terpenting bagi anestesi adalah system pernafasan sirkulasi, ginjal dan hepar. Maka dari itu sangatlah diperlukan penataan dan persiapan yang matang untuk melakukan suatu tindakan anestesi terhadap neonatus.

SISTEM PERNAFASAN

Jalan Nafas :
Otot leher bayi masih lembek, leher lebih pendek, sulit menyangga atau memposisikan kepala dengan tulang occipital yang menonjol. Lidah besar, epiglottis berbentuk “U” dengan proyeksi lebih ke posterior dengan sudut ± 450, relative lebih panjang dan keras, letaknya tinggi, bahkan menempel pada palatum molle sehingga cenderung bernafas melalui hidung. Akibat perbedaan anatomis epiglottis tersebut, saat intubasi kadangkala diperlukan pengangkatan epiglottis untuk visualisasi. Sementara lubang hidung, glottis, pipa tracheobronkial relative sempit, meningkatkan resistensi jalan nafas, mudah sekali tersumbat oleh lender dan edema. Trachea pendek, berbentuk seperti corong dengan diameter tersempit pada bagian cricoid. (Cote CJ,2000)


Pernafasan :
Sangkar dada lemah dan kecil dengan iga horizontal. Diafragma terdorong keatas oleh isi perut yang besar. Dengan demikian kemampuan dalam memelihara tekanan negative intrathorak dan volume paru rendah sehingga memudahkan terjadinya kolaps alveolus serta menyebabkan neonatus bernafas secara diafragmatis. Kadang-kadang tekanan negative dapat timbul dalam lambung pada waktu proses inspirasi, sehingga udara atau gas anestesi mudah terhirup ke dalam lambung. Pada bayi yang mendapat kesulitan bernafas dan perutnya kembung dipertimbangkan pemasangan pipa lambung.
Karena pada posisi terlentang dinding abdomen cenderung mendorong diafragma ke atas serta adanya keterbatasan pengembangan paru akibat sedikitnya elemen elastis paru, maka akan menurunkan FRC (Functional Residual Capacity) sementara volume tidalnya relative tetap. Untuk meningkatkan ventilasi alveolar dicapai dengan cara menaikkan frekuensi nafas, karena itu neonatus mudah sekali gagal nafas. Peningkatan frekuensi nafas juga dapat akibat dari tingkat metabolisme pada neonatus yang relative tinggi, sehingga kebutuhan oksigen juga tinggi, dua kali dari kebutuhan orang dewasa dan ventilasi alveolar pun relative lebih besar dari dewasa hingga dua kalinya. Tingginya konsumsi oksigen dapat menerangkan mengapa desaturasi O2 dari Hb terjadi lebih mudah atau cepat, terlebih pada premature, adanya stress dingin maupun sumbatan jalan nafas.


SISTEM SIRKULASI DAN HEMATOLOGI
Aliran darah fetal bermula dari vena umbilikalis, akibat tahanan pembuluh paru yang besar (lebih tinggi dibanding tahanan vaskuler sistemik =SVR) hanya 10% dari keluaran ventrikel kanan yang sampai paru, sedang sisanya (90%) terjadi shunting kanan ke kiri melalui ductus arteriosus Bottali.
Pada waktu bayi lahir, terjadi pelepasan dari plasenta secara mendadak (saat umbilical cord dipotong/dijepit), tekanan atrium kanan menjadi rendah, tahanan pembuluh darah sistemik (SVR) naik dan pada saat yang sama paru mengembang, tahanan vaskuler paru menyebabkan penutupan foramen ovale (menutup setelah beberapa minggu), aliran darah di ductus arteriosus Bottali berbalik dari kiri ke kanan. Kejadian ini disebut sirkulasi transisi. Penutupan ductus arteriosus secara fisiologis terjadi pada umur bayi 10-15 jam yang disebabkan kontraksi otot polos pada akhir arteri pulmonalis dan secara anatomis pada usia 2-3 minggu.
Pada neonatus reaksi pembuluh darah masih sangat kurang, sehingga keadaan kehilangan darah, dehidrasi dan kelebihan volume juga sangat kurang ditoleransi. Manajemen cairan pada neonatus harus dilakukan dengan secermat dan seteliti mungkin. Tekanan sistolik merupakan indicator yang baik untuk menilai sirkulasi volume darah dan dipergunakan sebagai parameter yang adekuat terhadap penggantian volume. Autoregulasi aliran darah otak pada bayi baru lahir tetap terpelihara normal pada tekanan sistemik antara 60-130 mmHg. Frekuensi nadi bayi rata-rata 120 kali/menit dengan tekanan darah sekitar 80/60 mmHg.

SISTEM EKSKRESI DAN ELEKTROLIT
Akibat belum matangnya ginjal neonatus, filtrasi glomerulus hanya sekitar 30% disbanding orang dewasa. Fungsi tubulus belum matang, resorbsi terhadap natrium, glukosa, fosfat organic, asam amibo dan bikarbonas juga rendah. Bayi baru lahir sukar memekatkan air kemih, tetapi kemampuan mengencerkan urine seperti orang dewasa. Kematangan filtrasi glomerulus dan fungsi tubulus mendekati lengkap sekitar umur 20 minggu dan kematangannya sedah lengkap setelah 2 tahun.. (Cote CJ,2000)
Karena rendahnya filtrasi flomerulus, kemampuan mengekskresi obat-obatan juga menjadi diperpanjang. Oleh karena ketidakmampuan ginjal untuk menahan air dan garam, penguapan air, kehilangan abnormal atau pemberian air tanpa sodium dapat dengan cepat jatuh pada dehidrasi berat dan ketidakseimbangan elektrolit terutama hiponatremia. (Warih,1992)
Pemberian cairan dan perhitungan kehilangan atau derajat dehidrasi diperlukan kecermatan lebih disbanding pada orang dewasa. Begitu pula dalam hal pemberian elektrolit, yang biasa disertakan pada setiap pemberian cairan.

FUNGSI HATI
Fungsi detoksifikasi obat masih rendah dan metabolisme karbohidrat yang rendah pula yang dapat menyebabkan terjadinya hipoglikemia dan asidosis metabolic. Hipotermia dapat pula menyebabkan hipoglikemia.
Cadangan glikogen hati sangat rendah. Kadar gula normal pada bayi baru lahir adalah 50-60%. Hipoglikemia pada bayi (dibawah 30 mg%) sukar diketahui tanda-tanda klinisnya, dan diketahui bila ada serangan apnoe atau terjadi kejang. Sintesis vitamin K belum sempurna. Pada pemberian cairan rumatan dibutuhkan konsentrasi dextrose lebih tinggi (10%). Secara rutin untuk bedah bayi baru lahir dianjurkan pemberian vitamin K 1 mg i.m.hati-hati penggunaan opiate dan barbiturate, karena kedua obat tersebut dioksidasi dalam hati.

SISTEM SYARAF
Waktu perkembangan system syaraf, sambungan syaraf, struktur otak dan myelinisasi akan berkembang pada trimester tiga (myelinisasi pada neonatus belum sempurna, baru matang dan lengkap pada usia 3-4 tahun), sedangkan berat otak sampai 80% akan dicapai pada umur 2 tahun. Waktu-waktu ini otak sangat sensitive terhadap keadaan-keadaan hipoksia.
Persepsi tentang rasa nyeri telah mulai ada, namun neonates belum dapat melokalisasinya dengan baik seperti pada bayi yang sudah besar. Sebenarnya anak mempunyai batas ambang rasa nyeri yang lebih rendah disbanding orang dewasa.
Perkembangan yang belum sempurna pada neuromuscular junction dapat mengakibatkan kenaikan sensitifitas dan lama kerja dari obat pelumpuh otot non depolarizing.
Syaraf simpatis belum berkembang dengan baik sehingga parasimpatis lebih dominant yang mengakibatkan kecenderungan terjadinya refleks vagal (mengakibatkan bradikardia; nadi <110 kali/menit) terutama kalau bayi dalam keadaan hipoksia maupun bila aad stimulasi daerah nasofaring. Sirkulasi bayi baru lahir stabil setelah berusia 24-48 jam. Belum sempurnanya mielinisasi dan kenaikan permeabilitas blood brain barrier akan menyebabkan akumulasiobat-obatan seperti barbiturat dan narkotik, dimana mengakibatkan aksi yang lama dan depresi pada periode pasca anestesi. Sisa dari blok obat relaksasi otot dikombinasikan dengan zat anestesi IV dapat menyebabkan kelelahan otot-otot pernafasan, depresi pernafasan dan apnoe pada periode pasca anestesi. Setiap keadaan bradikardia harus dianggap berada dalam keadaan hipoksia dan harus cepat diberikan oksigenasi. Kalau pemberian oksigen tidak menolong baru dipertimbangkan pemberian sulfas atropine. PENGATURAN TEMPERATUR Pusat pengaturan suhu di hypothalamus belum berkembang, walaupun sudah aktif. Kelenjar keringat belum berfungsi normal, mudah kehilangan panas tubuh (perbandingan luas permukaan dan berat badan lebih besar, tipisnya lemak subkutan, kulit lebih permeable terhadap air), sehingga neonatus sulit mengatur suhu tubuh dan sangat terpengaruh oleh suhu lingkungan (bersifat poikilotermik). Produksi panas mengandalkan pada proses non-shivering thermogenesis yang dihasilkan oleh jaringan lemak coklat yang terletak diantara scapula, axila, mediastinum dan sekitar ginjal. Hipoksia mencegah produksi panas dari lemak coklat (Morgan HAH,1993) Hipotermia dapat terjadi akibat dehidrasi, suhu sekitar yang panas, selimut atau kain penutup yang tebal dan pemberian obat penahan keringat (misal: atropin, skopolamin). Adapun hipotermia bisa disebabkan oleh suhu lingkungan yang rendah, permukaan tubuh terbuka, pemberian cairan infuse/ tranfusi darah dingin, irigasi oleh cairan dingin, pengaruh obat anestesi umum (yang menekan pusat regulasi suhu) maupun obat vasodilator. Temperature lingkungan yang direkomendasikan untuk neonatus adalah 270C. Paparan dibawah suhu ini akan mengandung resiko diantaranya: cadangan energi protein akan berkurang, adanya pengeluaran katekolamin yang dapat menyebabkan terjadinya kenaikan tahanan vaskuler paru dan perifer, lebih jauh lagi dapat menyebabkan lethargi, shunting kanan ke kiri, hipoksia dan asidosis metabolic. Untuk mencegah hipotermia bias ditempuh dengan : memantau suhu tubuh, mengusahakan suhu kamar optimal atau pemakaian selimut hangat, lampu penghangat, incubator, cairan intra vena hangat, begitu pula gas anestesi, cairan irigasi maupun cairan antiseptic yang digunakan yang hangat. FARMAKOLOGI Farmakokinetik dan farmakodinamik dari obat-obat yang diberikan pada neonatus berbeda disbanding dengan dewasa karena pada neonatus : 1.Perbandingan volume cairan intravaskuler terhadap cairan ekstravaskuler berbeda dengan orang dewasa. 2.Laju filtrasi glomerulus masih rendah 3.Laju metabolisme yang tinggi 4.Kemampuan obat berikatan dengan protein masih rendah 5.Liver/hati yang masih immature akan mempengaruhi proses biotransformasi obat. 6.Aliran darah ke organ relative lebih banyak (seperti pasa otak, jantung, liver dan ginjal) 7.Khusus pada anestesi inhalasi, perbedaan fisiologi system pernafasan : ventilasi alveolar tinggi, Minute volume, FRC rendah, lebih rendahnya MAC dan koefisien partisi darah/gas akan meningkatkan potensi obat, mempercepat induksi dan mempersingkat pulih sadarnya. Tekanan darah cenderung lebih peka terhadap zat anestesi inhalsi mungkin karena mekanisme kompensasi yang belum sempurna dan depresi miokard hebat. Beberapa obat golongan barbiturat dan agonis opiate agaknya sangat toksisk pada neonatus disbanding dewasa. Hal ini mungkin karena obat-obat tersebut sangat mudah menembus sawar darah otak, kemampuan metabolisme masih rendah atau kepekaan pusat nafas sangat tinggi. Sebaliknya neonatus tampaknya lebih tahan terhadap efek ketamin. Bayi umumnya membutuhkan dosis suksisnil cholin relative lebih tinggi disbanding dewasa karena ruang extraselulernya relative lebih besar. Respon terhadap pelumpuh otot non deplarisasi cukup bervariasi. PERSIAPAN ANESTESI Sebelum anestesi dan pembedahan dilaksanakan, keadaan hidrasi, elektrolit, asam basa harus berada dalam batas-batas normal atau mendekati normal. Sebagian pembedahan bayi baru lahir merupakan kasus gawat darurat. Proses transisi sirkulasi neonatus, penurunan PVR (Pulmonary Vascular Resistance) berpengaruh pada status asam-basanya. Transportasi neonatus dari ruang perawatan ke kamar bedah sedapat mungkin menggunakan incubator yang telah dihangatkan. Sebelum bayi masuk kamar bedah hangatkan kamar dengan mematikan AC misalnya. Peralatan anestesi neonatus bersifat khusus. Tahanan terhadap aliran gas harus rendah, anti obstruksi, ringan dan mudah dipindahkan. Untuk anestesi yang lama, kalau mungkin gas-gas anestetik dihangatkan, dilembabkan dengan pelembab listrik. Biasanya digunakan system anestesi semi-open modifikasi system pipa T dari Ayre yaitu peralatan dari Jackson-Rees. Puasa Puasa yang lama menyebabkan dehidrasi dan hipoglikemia. Lama puasa yang dianjurkan adalah stop susu 4 jam dan berilah air gula 2 jam sebelum anestesi. (Abdul Latief,1991) Infus Dipasang untuk memenuhi kebutuhan cairan karena puasa, mengganti cairan yang hilang akibat trauma bedah, akibat perdarahan, dll. Untuk pemeliharaan digunakan preparat D5%-10% dalam cairan elektrolit. Neonatus terutama bayi premature mudah sekali mengalami dehidrasi akibat puasa lama atu sulit minum, kehilangan cairan lewat gastrointestinal, evaporasi (Insensible water loss), tranduksi atau sekuestrasi cairan ke dalam lumen usus atau kompartemen tubuh lainnya. Dehidrasi/hipovolemia sangat mudah terjadi karena luas permukaan tubuh dan kompartemen atau volume cairan ekstra seluler relative lebih besar serta fingsu ginjal belum matang. Cairan pemeliharaan/pengganti karena puasa diberikan dalam waktu 3 jam, jam I 50% dan jam II, III maing-masing 25%. Kecukupan hidrasi dapat dipantau melalui produksi urin (>0,5ml/kgBB/jam), berat jenis urin (<1,010) ,aupun dengan pemasangan CVP (Central Venous Pressure).
Sebab-sebab mulainya persalinan belum diketahui dengan jelas, banyak faktor yang memegang peranan dan bekerja sama sehingga terjadi persalinan (muchtar, 1998), diantaranya :
a. Teori penurunan hormon.
1 sampai 2 minggu sebelum persalinan terjadi penurunan kadar estrogen dan progesteron, progesteron mengakibatkan relaksasi otot-otot rahim, sedangkan estrogen meningkatkan kerentanan otot-otot rahim. Selama kehamilan terjadi keseimbangan antara kadar estrogen dan progesteron tetapi akhir kehamilan terjadi penurunan kadar progesteron sehingga timbul his.
b. Teori Distensi rahim
Rahim yang menjadi besar dan meregang akan menyebabkan iskemik otot-otot rahim sehingga timbuk kontraksi untuk mengeluarkan isinya.
c. Teori iritasi mekanik.
Dibelakang serviks terletak ganglion sevikalis, bila ganglion ini ditekan oleh kepala janin maka akan timbul kontraksi uterus.
d. Teori plasenta menjadi tua.
Akibat plasenta tua menyebabkan turunnya kadar progesteron yang mengakibatkan ketegangan pada pembuluh darah, hal ini menimbulkan kontraksi rahim.
e. Teori Prostaglandin.
Protaglandin yang dihasilkan oleh desidua menjadi sebab permulaan persalinan karena menyebabkan kontraksi pada miometrium pada setiap umur kehamilan. f. Indikasi Partus.
Partus dapat ditimbulkan dengan pemberian oksitoksin drips, menurut tetesan perinfus dan pemberian gagang laminaria kedalam kanalis sevikalis dengan tujuan merangsang pleksus frankenhauser, sehingga timbul kontraksi dan melakukan amniotomi yaitu pemecahan ketuban
TANDA-TANDA PERSALINAN 3
1. Timbulnya his persalinan adalah his pembukaan dengan sifarnua sebagai berikut:
-. Nyeri melingkar dari punggung memancar ke perut bagian depan
-. Teratur
-. Makin lama makin pendek intervalnya dan makin kuat intensitasnya
-. Kalau dibawa berjalan bertambah kuat
-. Mempunyai pengaruh pada pendataran dan atau pembukaaan cervik


2. Keluarnya lendir berdarah dari jalan lahir (show)
dengan pendataran dan pembukaan, lendir dari kanalis cervikalis keluar disertai dengan sedikit darah. Perdarahan yang sediki ini disebabkan karena lepasnya selaput janin pada bagian bawah segmen rahim hingga beberapa capilar terputus.
3. Keluarnya cairan banyak dengan sekonyong konyong dari jalan lahir
hal ini terjadi kalau ketuban pecah atau selaput janin robek. Ketuban itu pecah kalau pembukaan lengkap atau hampir lengkap dalam hal ini keluar cairan merupakan tanda yang lambat sekali. Tetapi kadan-kadang ketuban itu pecah pada pembukaan kecil, malahan kadan-kadang selaput robek sebelum persalinan.
Sebab mulainya persalinan dapat dipengaruhi oleh beberapa sebab misalnya terjadinya penurunan kadar estrogen dan progesteron yang disebabkan plasenta menjadi tua pada kehamilan tua, serta juga dapat akibat terjadi iskemia otot-otot uterus sehingga terganggunya sirkulasi uteroplasenta sehingga plasenta mengalami degenerasi. Faktor lain misalnya tekanan pada ganglion servikale dari plexus frankenhauser yang terdapat dibelakang serviks, akibatnya kontraksi uterus dibangkitkan.

Faktor-faktor yang menyebabkan pembukaan servik
1. Mungkin otot-otot seviks menarik pada pinggir ostium dan membesarkannya.
2. Waktu kontraksi segmen bawah rahim dan seciks deregang oleh isi rahim terutama oleh air ketuban dan ini menyebabkan tarikan pada serviks
3. Waktu kontraksi, bagian dari selaput yang terdapat diatas kanalis sevikalis ialah yang disebut selaput ketuban, menonjol kedalam canalis servikalis, dan membukanya. Kalau tidak ada ketuban, karena misalnya ketuban sudah pecah, faal dilatasi dari ketuban diambil oleh kepala.

Faal ketuban ini mungkin karena selaput anak pada segmen bawah rahim merupakan pendahuluan dari pembukaan serviks, kadang-kadang pada kehamilan cukup bulan, pelepasan selaput janin dengan jari kita dapat memulai persalinan.. Agar anak dapat keluar rahim maka perut terjadi pembukaan dari serviks. Yang dimaksud dengan pembukaan serviks ialah pembesaran dari ostium eksternum yang tadinya merupakan suatu lobang dengan diameter beberapa milimeter menjadi lobang yang dapat dilalui anak, kira-kira 10 cm.
Pembukaan serviks ini biasanya didahului oleh pendataran dari serviks. Yang dimaksud pendataran dari serviks ialah pemendekan dari kanalis servikalis yang semula berupa sebuah saluran yang panjanganya 1 – 2 cm, menjadi suatu lobang saja dengan pinggir yang tipis. Bagi pemeriksa, pendataran terutama nampak pada portio yang makin pendek dan akhirnya rata dengan majunya persalinan. Pendataran dari serviks ini terjadi dari atas ke bawah, mula-mula bagian serviks didaerah ostium internum ditarik ke atas dan menjadi lanjuran dai segmen bawah rahim sedangkan ostium eksternum sementara tidak berubah. Sebetulnya pendataran serviks yang pendek (lebih dari setengahnya telah merata) merupakan tanda dari serviks yang matang.


FASE LATEN YANG MEMANJANG ATAU ABNORMALITAS PERSALINAN

Dapat disebabkan beberapa faktor:
1. kecemasan dan ketakutan
2. pemberian analgetik yang kuat atau pemberian analgetik yang terlalu cepat pada persalinan dan pemberian anastesi sebelum fase aktif.
3. abnormalitas pada tenaga ekspulsi
4. abnormalitas pada panggul
5. kelainan pada letak dan bentuk janin

1. Kecemasan dan ketakutan
hamil dan persalinan merupakan suatu pengalaman yang paling indah, tetapi merupakan suatu tugas biologis yang terberat dalam kehidupannya. Banyak perubahan-perubahan yang terjadi setelah wanita tersebut itu hamil. Misalnya perubahan fisik yang nyata seperti perubahan pada genitalia, adanya hiperpigmentasi antara lain topeng kehamilan, bertambah besarnya perut dan sebagainya. Demikian pula perubahan-perubahan psikis misalnya takut atau cemas menghadapi proses persalinan dan sebagainya, ketegangan jiwa ini dibawa terus sampai kepada proses persalinan, sehingga menimbulkan lingkaran fear tension pain yang akan mengakibatkan proses persalinan tidak lancar.
Perasaan takut dan keadaan yang menggelisahkan wanita hamil dapat menimbulkan ketegangan, sehingga ketenangan yang harus dikuasai selama persalinan tidak tercapai, semua ini dapat dapat diatasi dengan menanamkan kepercayaan pada diri sendiri dan kepada penolong yang dapat dicapai dengan:
- Dokter atau bidan memberi perawatan selama kehamilan dan memberi perhatian terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi wanita hamil tersebut, disertai deiskusi dan sikap penuh kesabaraan selama memeriksa kehamilan.
- Dengan mengikuti dan melakukan latihan senam hamil secara teratur dan intensif.
Dengan persiapan tersebut diatas diharapkan wanita menghadapi persalinan dengan tenan, penuh percaya diri. Dengan demikian dapat dihindarkan sejauh mungkin penggunaan alat-alat narkosa yang dapat merugikan kesehatan ibu dan anak.

2. Pemberian analgetika yang kuat dan anastesia sebelum fase aktif
Usaha-usaha mengurangi sakit pada wanita yang bersalin dapat dibagi menjadi 2 golongan:
1. Usaha-usaha mengurangi nyeri dalam kala I dan permulaan kala II yang disebut analgesia. Pada masa ini tidak usah dalam, tetapi harus mencakup waktu yang lama sekali ialah kadang-kadang sampai 18 jam.
2. Usaha-usaha mengurangi rasa nyeri menjelang bayi lahir disebut anastesi. Usaha mengurangi nyeri harus lebihg intensif, tetapi hanya perlu selama waktu yang terbatas sekali.
Semua obat yang dipergunakan untuk mengurangi nyeri waktu persalinan harus memenuhi syarat-syarat sbb:
- Tidak membahayakan ibu
- Tidak membahayakan anak
- Tidak memperngaruhi his, kalau obat anastesia mempengaruhi his, maka tentu mempengaruhi kemajuan janin.

Tidak banyak obat yang mempengaruhi ketiga syarat tersebut, terutama syarat kedua sukar untuk dipenuhi karena semua obat anestesia yang diberkan secara umum menembus plasenta dan juga mempengaruhi janin, sehingga timbul hipoksia pada janin tersebut. Saat kita memulai memberikan analgesi hrus tepat. Kalau terlalu cepat kita memulai memberi analgesia, maka dapat menimbulkan partus lama. Biasanya analgesia baru diberikan kalau ternyata bahwa pendataran dan pembukaan cervix lancar. Pada seorang primigravida biasanya baru dimulai pada pembukaan 3 cm, dan pada multi para pada pembukaan 4 cm.

Obat-obat yang diberikan untuk analgetik obstetris ialah:
- Inhalasi chloroform atau eter
- Morphin, demerol, barbiturat
- Scopolamin
- Kombinasi antara salah satu obat: misal morphin, demerol, barbiturat dengan scopolamin
- Paracervical blok

Obat yang diberikan untuk anasthesia obstetris:
- Obat-obat yang menghilangkan kesadaran : inhalasi anastesi (chloroform, ether NO2 cyclopran) atau anastesia yang diberikan seperti pent*tal.
- Obat-obat dan cara-cara yang tidak mengurangi kesadaran : anasthesi spinal atau anestesi infiltrasi.

3. Abnormalitas pada tenaga ekspulsi
Terbagi atas:
Ad.1 Inersia uteri
Inersia uteri primer atau hipotonik
Disini his bersifat biasa dalam arti bahwa fundus berkontraksi lebih kuat dan lebih dahulu dari pada bagian lain. Peranan fundus tetap menonjol. Kelainan terletak dalam hal bahwa kontraksi uterus lebih aman, singkat dan jarang dari pada biasa. Keadaan umum penderita biasa lebih baik dan rasa nyeri tidak seberapa.

Inersia uteri sekunder
Timbul setelah berlangsungnya his kuat untuk waktu yang lama, seting timbul terjadi pada wanita yang tidak diberi pengawasan yang baik tentang persalinan.

Diagnosis :
Insersia uteri paling sulit pada masa laten karena konteaksi uterus yang disertai rasa nyeri, tidak cukup untuk membuat diagnosis bahwa persalinan telah dimulai diperlukan kenyataan bahwa sebagai akibat kontraksi itu terjadi perubahan pada serviks yakni pendataran dan pembukaan.

Terapi :
 Program terapi istirahat
 Infus oksitosin
 Seksio sesaria bila ada tanda gawat

Ad.2 Incoordinate uteri action
Sifat his berubah, tonus otot uterus meningkat, juga diluar his dan kontraksinya tidak berlangsung seperti biasanya karena tidak ada sinkron pada bagian-bagiannya . tidak ada koordinasi antara kontraksi bagian atas, tengah dan bawah menyebabkan his tidak efisien dalam mengadakan pembukaan.4
Ada kalanya persalinan tidak maju karena kelainan pada serviks yang dinamakan distosia servikalis. Kelainan ini bisa primer atau sekunder. Distosia servikalis di katakan primer jika serviks tidak membuka karena tidak mengadakan relaksasi berhubungan dengan incoordinate uterie action. Distosia servikalis sekunder disebabkan oleh kelainan organik pada serviks misal karena ketuban yang sudah lama pecah, kelainan his ini menyebabkan spasme sirkuler setempat sehingga terjadi penyempitan kavum uteri. Ini dinamakan lingkaran kontraksi atau lingkaran konstriksi.

Penanganan :
- Pemberian analgetika seperti morphin dan petidin
- Sectio caesaria pada distosia cervikalis sekunder

4. Abnormalitas pada panggul
Sering disebut CPD atau cephalopelvic disproportion, dimana sering terjadi ketika kepala fetus terlalau besar untuk melalui rongga pelvis. Ini dapat terjadi bila kepala terlalu besar, misalnya pada kasus hidrosephalus, atau pelvis terlalu kecil atau kelainan bentuk. Panggul keci dapat disebabkan oleh karena penyakit rakhitis yang terjadi pada masa anak-anak. Kelainan tulang pada masa anak-anak menyebabkan kelainan bentuk pada pelvis. Bentuk yang sering terjadi pada cephalopelvic disproportio adalah dimana kelainan posisi dari oksipito posterior. Di beberapa kasus tidak ada kelainan pada pelvis atau kepala fetus. Kelainan dari diameter presentasi dari defleksi oksipito posterior lebih banyak dari posisi anterior dan akan menyebabkan terjadinya kesulitan dalam persalinan. Pada beberapa kasus cephalopelvic disproportio relatif dapat melahirkan persalinan pervaginam.
Bawah Lima Tahun atau sering disingkat sebagai Balita merupakan salah satu periode usia manusia setelah bayi sebelum anak awal. Rentang usia balita dimulai dari dua sampai dengan lima tahun,atau biasa digunakan perhitungan bulan yaitu usia 24-60 bulan. Periode usia ini disebut juga sebagai usia prasekolah.

Selama pertengahan hingga akhir tahun 1970-an, sejumlah laporan yang dibuat secara terburu-buru menunjukkan bahwa kontrasepsi oral dapat meningkatkan resiko seorang wanita terhadap resiko masalah-masalah kardiovaskular, tekanan darah tinggi, kanker payudara, kanker leher rahim dan sejumlah komplikasi-komplikasi lainnya yang menakutkan. Popularitas pil KB menjadi turun. Bahkan hingga sekarang, walaupun kontrasepsi oral memberikan pencegahan kehamilan yang benar-benar mudah digunakan bagi jutaan wanita di seluruh dunia, namun banyak wanita yang takut menggunakannya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar